Kemenhub: 71 jt pengguna “Teman Bus” bebas dari permasalahan transportasi

Ibukota Indonesia – Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatatkan 71 jt pengguna "Teman Bus" terbebas dari permasalahan transportasi, pasca memanfaatkan layanan angkutan perkotaan dengan skema Buy The Service (BTS).
"Sejak keberadaannya pada tahun 2020 hingga 2024, sebanyak-banyaknya lebih tinggi dari 71 jt pendatang sudah ada merasakan khasiat penyelenggaraan 'Teman Bus'," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Tatan Rustandi pada keterangan pada Jakarta, Minggu.
Tatan menyampaikan hal itu ketika bermetamorfosis menjadi narasumber pada kegiatan Seminar Nasional "Tinjauan Aspek Kebijakan Publik di Penyelenggaraan Sistem Transportasi Perkotaan Berbasis Angkutan Umum Massal", di dalam Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.
Ia menerangkan, dari 71 jt pendatang yang digunakan sudah ada merasakan faedah pemakaian 'Teman Bus', preferensi pengguna kendaraan beroda dua motor (R2) sebesar 72 persen di dalam tahun 2023.
Sedangkan, preferensi pengguna mobil (R4) yang dimaksud menggunakan layanan BTS pada skala nasional sebesar 23 persen dalam tahun 2023.
"Adapun, layanan ini didukung oleh elektrifikasi lalu digitalisasi," ujarnya.
Dia menerangkan, layanan 'Teman Bus' merupakan angkutan perkotaan dengan skema BTS atau pemerintah membeli setiap kilometer pelayanan angkutan yang dilaksanakan oleh operator yang dimaksud pada waktu ini telah dilakukan hadir di 11 kota.
Kemenhub mencatat, sejak tahun 2020 hingga 2024 layanan itu telah dilakukan melayani ke bervariasi area di antaranya Pusat Kota Medan, Palembang, Bali, Solo, Yogyakarta, Banyumas, Bandung, Surabaya, Makassar, Banjarmasin, kemudian Balikpapan dengan 817 unit bus lalu 54 mobil penumpang.
Menurutnya, layanan itu sangat penting pada rangka mengatasi permasalahan transportasi perkotaan pada Indonesia. Pasalnya, pihaknya mencatatkan perkembangan kendaraan pribadi di Indonesia per tahunnya mencapai 8 persen.
Kerugian dunia usaha akibat kemacetan dalam kota – kota besar seperti Ibukota Indonesia mampu mencapai Rp64 triliun per tahun, sementara untuk wilayah Semarang, Surabaya, Bandung, Medan serta Makassar kerugiannya sekitar Rp12 triliun per tahun," ucapannya pula.
Baginya, peningkatan kendaraan pribadi yang tersebut terus menerus, dapat menciptakan penurunan kualitas udara. Pencemaran udara berubah menjadi ancaman kritis bagi komunitas perkotaan dengan kepadatan kendaraan bermotor yang semakin meningkat.
"Selain itu, banyaknya kendaraan bermotor dalam jalan juga memacu terjadinya kemacetan," katanya lagi.
Berdasarkan data TomTom Traffic Index 2023 tentang peringkat bilangan kemacetan di dunia, ujar Tatan, Ibukota Indonesia menempati peringkat ke-29 dengan rata-rata waktu tempuh yaitu 22 menit 40 detik per 10 kilometer perjalanan.
Oleh sebab itu, kata Tatan, diperlukan suatu sistem transportasi perkotaan berbasis angkutan umum massal seperti 'Teman Bus' dengan skema BTS.
"Bus dipilih lantaran kota-kota pada Indonesi memiliki jalan yang digunakan relatif sempit, sehingga lebih besar sesuai untuk implementasi bus," katanya.
Kemenhub berharap layanan itu dapat terus mengalami perkembangan serta dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebaik mungkin saja juga pemerintah wilayah dapat berperan pada menyosialisasikan pengaplikasian angkutan umum perkotaan.
Artikel ini disadur dari Kemenhub: 71 juta pengguna “Teman Bus” bebas dari masalah transportasi






