Alessandro Bastoni Inter Milan Butuh Semangat Baru Pasca Era Simone Inzaghi

Bek andalan Inter Milan, Alessandro Bastoni, menegaskan bahwa skuad Nerazzurri membutuhkan suntikan semangat baru setelah berakhirnya era Simone Inzaghi yang penuh tantangan. Bastoni juga masih belum bisa menjelaskan kekalahan telak 0-5 dari PSG di final Liga Champions yang menyakitkan.
Musim lalu menjadi periode yang berat bagi Inter. Setelah kalah tipis dalam perebutan Scudetto dari Napoli, kekalahan di final Liga Champions, dan kepergian Inzaghi ke Al-Hilal menambah daftar pukulan berat yang harus diterima skuad asuhan Cristian Chivu ini.
“Kami telah melewati empat tahun yang indah bersama Inzaghi, lalu dia membuat keputusan ini. Kami tidak punya keluhan dan masih sering berbicara dengannya,” ungkap Bastoni kepada wartawan di Los Angeles.
Persiapan Inter Menuju Piala Dunia Antarklub 2025
Inter Milan kini sepenuhnya fokus pada persiapan menghadapi Piala Dunia Antarklub 2025. Jadwal ketat menanti mereka, di mana Inter akan bersua tim-tim tangguh seperti Monterrey, Urawa Red Diamonds, dan River Plate dalam turnamen prestisius tersebut.
Bastoni menekankan pentingnya memulai era baru dengan energi yang segar. “Tidak mudah, tapi pekerjaan kami mengharuskan kami untuk memulai lagi, melihat sisi positif dari musim lalu dan memulai era baru,” jelasnya. “Yang mutlak harus kami lakukan adalah membawa semangat baru,” tambah Bastoni mengenai peran vital Cristian Chivu sebagai pelatih baru.
Peran Penting Cristian Chivu dalam Kebangkitan Inter Milan
Cristian Chivu bukanlah sosok asing di Inter Milan. Jejaknya sebagai bagian dari tim peraih Treble tahun 2010 dan perannya sebagai pelatih akademi menjadikan penunjukannya sebagai pelatih kepala sangat dinantikan. Bastoni mengaku langsung terkesan dengan pendekatan humanis yang dibawa oleh pelatih asal Rumania tersebut.
“Pelatih membantu kami menemukan energi baru. Dia menekankan pentingnya perjalanan kami dalam beberapa tahun terakhir dan pencapaian besar yang kami raih,” papar Bastoni mengenai metode Chivu. “Saya langsung terkesan dengan Chivu dari sisi kemanusiaan. Saya sudah mengenalnya sebagai pelatih tim Primavera, tapi mungkin kami butuh mendengar dia menceritakan semua yang kami capai selama ini,” ungkap Bastoni.
Belajar dari Kegagalan Final Liga Champions: Fokus ke Depan
Bastoni mengakui bahwa ia dan rekan-rekan setimnya sempat bertanya-tanya mengenai penyebab kekalahan telak dari PSG di final Liga Champions. Namun, pemain berusia 24 tahun itu memilih untuk melupakan masa lalu dan fokus pada peluang baru di masa depan.
“Kami sudah bertanya pada diri sendiri mengapa final Liga Champions bisa berakhir seperti itu. Saya belum bisa menemukan penjelasan untuk malam itu, tapi untungnya profesi ini memungkinkan kami melupakannya dan melanjutkan,” kata Bastoni.
“Pelatih Chivu dan (asisten pelatih Aleksandar) Kolarov perlu bekerja pada mentalitas kami, karena musim-musim ini panjang dan melelahkan,” tambahnya mengenai tantangan yang menanti.
Transisi di Timnas Italia: Adaptasi terhadap Perubahan
Sebagai bagian dari skuad Timnas Italia, Bastoni juga merasakan perubahan pelatih dari Luciano Spalletti ke Gennaro Gattuso. Pemain asal Rimini ini memahami betul dinamika dunia sepak bola yang selalu berubah.
“Era tidak berlangsung selamanya. Pemain dan pelatih harus berbagi tanggung jawab ketika ada yang tidak beres, tapi inilah sepak bola dan kami harus siap menghadapi apapun,” tutup Bastoni mengenai transisi di tim nasional.






