Bayer Leverkusen Juara Bundesliga Mengungkap Rahasia Unbeaten Xabi Alonso

Xabi Alonso telah mencatatkan sejarah bersama Bayer Leverkusen! Untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, mereka berhasil meraih gelar Bundesliga dengan status yang luar biasa: tak terkalahkan (unbeaten). Mari kita selami lebih dalam aspek-aspek kunci yang membuat Leverkusen tampil dominan di bawah asuhan Alonso.
Sentuhan Magis Xabi Alonso: Pemain Berpengalaman, Hasil Mengagumkan
Sejak ditunjuk sebagai pelatih Bayer Leverkusen, nama Xabi Alonso tak pernah berhenti menjadi perbincangan. Eks gelandang Real Sociedad ini berhasil menyatukan pemain muda berbakat dengan talenta senior yang berpengalaman. Strategi transfernya cerdik, tidak melulu fokus pada investasi pemain muda. Beberapa rekrutan kunci justru pemain yang sudah berusia matang, seperti:
Granit Xhaka (dari Arsenal): Menjadi pemain dengan menit bermain terbanyak di Leverkusen, menunjukkan peran krusialnya.
Jonas Hofmann (dari Gladbach): Meskipun berusia 30 tahun, Hofmann memberikan kontribusi signifikan dengan kepiawaiannya dalam mencari ruang serta torehan 8 gol dan 12 assist.
Kehadiran pemain berpengalaman seperti Hofmann, seperti yang diungkapkan rekan setimnya, sangat membantu para pemain muda dalam mengambil keputusan tepat di lapangan. Ini membuktikan bahwa kombinasi usia dan pengalaman adalah resep sukses Alonso.
Visi Mourinho yang Terbukti: Filosofi Taktik Xabi Alonso
Pada tahun 2019, sebuah video menarik muncul di mana Jose Mourinho memprediksi bahwa Alonso akan menjadi manajer hebat. Alasannya sederhana: ia pernah bermain di bawah bimbingan pelatih-pelatih top dunia seperti Pep Guardiola, Carlo Ancelotti, Jose Mourinho sendiri, dan Rafael Benitez. Pengalaman berharga ini membentuk filosofi taktik Alonso.
Positional Play ala Xabi Alonso: Fleksibel Namun Efektif
Kita tahu bahwa Pep Guardiola adalah master dari positional play, yang secara umum adalah pengaturan posisi pemain di setiap fase permainan untuk menciptakan koneksi, keunggulan jumlah, dan kelebaran untuk meregangkan pertahanan lawan.
Alonso juga mengadopsi prinsip ini. Pada musim pertamanya, shape build-up timnya bahkan mirip Manchester City dengan formasi 3-4-3 yang diubah menjadi 3-2-5 saat menyerang, dengan tiga bek, dua gelandang, dan wing-back yang melebar maksimal.
Namun, yang menarik adalah Alonso tidak kaku dalam positional play. Dalam beberapa momen menyerang, timnya tidak selalu simetris seperti tim Pep. Contohnya, saat melawan AS Roma, Grimaldo sering kali melakukan inverted run atau lari ke belakang lini pertahanan lawan meskipun posisinya adalah wing-back yang seharusnya menjaga kelebaran. Ini menciptakan area sayap kiri yang sengaja dibiarkan kosong.
Alonso justru sengaja membuat area bermain sempit dengan menumpuk banyak pemain di satu sisi, memancing lawan, kemudian memindahkan bola ke ruang lain yang lebih kosong. Grimaldo, pemain bernomor punggung 20, adalah salah satu fitur taktis Alonso yang krusial. Ia tidak hanya berperan sebagai wing-back, tetapi juga bisa beroperasi sebagai gelandang tengah atau attacking midfielder.
Kokohnya Pertahanan dan Agresifnya Pressing Leverkusen
Sejak awal menangani Leverkusen, Alonso memilih formasi dasar 3-4-3. Pilihan tiga bek ini bukan tanpa alasan; idenya adalah memperbaiki aspek pertahanan Leverkusen terlebih dahulu.
Alonso juga mengadopsi high pressing ala sepak bola Jerman yang agresif, mirip dengan Jurgen Klopp. Struktur pressing mereka melibatkan lima pemain belakang, dua gelandang, dan tiga penyerang yang aktif mengikuti arah bola. Jika serangan dipindah ke sayap, wing-back akan melakukan pressing agresif, sering diikuti oleh pemain lain untuk membentuk pressing trap di sayap.
Untuk menjaga intensitas pressing, center-back seperti Tapsoba bahkan berani mengikuti pemain yang mencoba mengekspos ruang di belakang gelandang atau ruang antarlini. Center-back Leverkusen akan “step up” atau naik untuk mencegah kalah jumlah di ruang antarlini, yang merupakan area rawan terekspos. Dengan center-back yang aktif bergerak maju, lawan kesulitan untuk membalikkan badan. Tercatat, garis pertahanan Leverkusen merupakan garis tertinggi di Bundesliga.
Ini menarik, mengingat formasi tiga bek identik dengan sistem reaktif atau pasif, sering digunakan untuk low block. Namun, Alonso berhasil mengubah sistem tiga beknya menjadi mesin pressing yang efektif.
Konsep “Attack Space” yang Mengalir di Leverkusen
Konsep attacking space (menyerang ruang) sangat terlihat di Leverkusen, membuat posisi pemain sangat cair. Gelandang sebagai pivot mengatur arah serangan. Baik Xhaka maupun Palacios sering drop atau turun ke backline untuk membebaskan Grimaldo naik ke depan.
Gelandang serang, seperti wonderkid Florian Wirtz dan Hofmann, diberi lisensi roaming atau bergerak bebas. Terlihat bagaimana Xhaka drop dan Tapsoba naik, sementara Palacios bergerak mengisi ruang kosong dan menciptakan area kecil untuk umpan kombinasi, sekaligus memancing pressing lawan. Jika lawan terpancing, bola dipindahkan ke ruang lain yang lebih kosong.
Prinsip attacking space ini juga diterapkan di fase kreasi peluang. Pemain rajin berlari mencari ruang untuk membuka pertahanan lawan. Wirtz menjadi pemain menonjol musim ini berkat mobilitasnya yang tinggi, berduet dengan Hofmann yang juga sangat mobile. Tiga penyerang Leverkusen kerap berotasi posisi untuk memecah marking lawan. Wirtz atau Hofmann bisa mengisi posisi striker, menunjukkan pemahaman ruang yang baik yang memungkinkan transisi serangan dieksekusi lebih cepat.
Mentalitas Pemenang dan Sentuhan Langsung Alonso
Gol Stanisic pada menit-menit akhir pertandingan saat melawan Roma, di mana seorang center-back mampu mencetak gol memanfaatkan ruang kosong saat pertahanan lawan belum sempurna, menunjukkan satu rahasia utama Leverkusen unbeaten: mentalitas yang terjaga sampai akhir laga.
Frimpong dalam salah satu wawancara menyebutkan bahwa timnya memiliki mentality dan passion untuk mencetak gol di akhir laga. Ditambah lagi, Alonso adalah figur yang mampu mempraktikkan teknik-teknik kepada pemain secara langsung. Ini tentu menjadi nilai tambah sebagai pelatih sekaligus mantan pemain top, di mana ia bisa mengoreksi langsung dan mencontohkan bagaimana menggunakan teknik yang benar.
Untuk menjadi tim unbeaten dalam satu musim, tidak hanya mengandalkan satu atau dua aspek saja. Xabi Alonso berhasil menggabungkan antara teknik, taktik, serta mentalitas untuk tetap bisa bermain konsisten. Ujian selanjutnya ada pada final Liga Europa melawan Atalanta dan final DFB Pokal melawan FC Kaiserslautern.






