Analisis Taktik Derby Della Madonnina di Final Supercoppa Italia dan Debut Gemilang Sergio Conceição di AC Milan

Awal Manis Sergio Conceição: Trofi Supercoppa Italia Bersama AC Milan
Sergio Conceição, yang baru saja ditunjuk sebagai suksesor Paulo Fonseca, langsung menggebrak dengan raihan positif. Ia berhasil membawa Rossoneri meraih trofi Supercoppa Italia! Perjalanan mereka menuju juara tidak mudah. Di semifinal, Milan berhasil menyingkirkan Juventus dengan comeback gemilang dari tertinggal 0-1 menjadi unggul 2-1.
Di partai final, tantangan lebih besar menanti: Inter, rival sekota mereka. Nerazzurri sempat unggul dua gol melalui Lautaro Martinez di akhir babak pertama dan Mehdi Taremi di awal babak kedua. Namun, AC Milan menunjukkan mental juara! Masuknya Rafael Leão di menit ke-50 menjadi game changer. Winger asal Portugal ini memberikan gebrakan di lini depan dan menjadi kunci keberhasilan Milan dalam melakukan comeback epik dari ketertinggalan dua gol menjadi kemenangan 3-2.
Selain kemampuan individu brilian dari Leão, laga final ini juga memperlihatkan karakter adaptif Sergio Conceição dalam menerapkan taktiknya, disesuaikan dengan karakter lawan. Penasaran bagaimana jalannya laga dari segi taktikal dan bagaimana implementasi taktik Sergio Conceição? Yuk, kita bahas bersama!
Formasi dan Strategi Awal: Inter Milan vs AC Milan
Inter Milan di bawah asuhan Simone Inzaghi tampil dengan pakem andalan tiga bek dalam formasi 3-5-2. Lini belakang diisi trio center-back Yan Bisseck, Stefan de Vrij, dan Bastoni. Di tengah, Hakan Çalhanoğlu bertindak sebagai gelandang jangkar, ditemani dua mezzala, Mkhitaryan dan Barella. Mereka didukung oleh dua wing-back lincah, Dimarco dan Dumfries. Di lini depan, Inter kehilangan Marcus Thuram dan posisinya digantikan oleh Mehdi Taremi yang berduet dengan Lautaro Martinez.
Sementara itu, AC Milan bersama Conceição menggunakan pakem dan formasi yang serupa dengan era Fonseca, yaitu empat bek dengan formasi 4-2-3-1. Duet center-back Tomori dan Thiaw diapit oleh full-back Emerson Royal dan Theo Hernández. Di lini tengah, Yunus Musah yang tampil apik di semifinal, menjadi starter bersama Youssouf Fofana. Perbedaan signifikan antara Conceição dan Fonseca adalah penempatan Reijnders di posisi nomor 10, sementara Fonseca menjadikannya sebagai box-to-box di posisi nomor 8. Di barisan penyerangan, Leão yang baru pulih tidak bisa tampil dari awal, posisinya digantikan oleh Pulisic di kiri, Alex Jimenez di kanan, dan Alvaro Morata sebagai ujung tombak.
Analisis Taktik Inter Milan: Fluiditas On Possession
Inter di bawah Simone Inzaghi dikenal dengan pergerakan pemain yang sangat cair saat fase on possession. Hal ini sangat terlihat di laga final. Struktur natural Inter saat menguasai bola adalah tiga center-back di lini pertama, tiga gelandang di tengah, dan dua wing-back yang naik sebagai penjaga kelebaran di depan. Dengan skema positioning pemain yang roaming ala Simone Inzaghi, beberapa variasi struktur terlihat jelas.
Kiper Inter, Yann Sommer, ikut terlibat dalam membangun serangan. Kehadiran Sommer yang naik memungkinkan dua center-back terluar Inter untuk lebih melebar. Selain itu, gelandang mereka juga tidak jarang turun ke lini pertama, bertukar posisi dengan center-back yang naik.
Tantangan AC Milan dalam Pressing Melawan Inter
Milan sempat mencoba meladeni build-up Inter dengan blok press berbasis man-marking. Namun, mereka terlihat cukup kewalahan menghadapi rotasi posisi yang dijalankan oleh pemain Inter. Terlihat di beberapa momen, Inter berhasil mengeliminasi blok press tinggi Milan melalui lini tengah, dengan Barella dan Hakan Çalhanoğlu sebagai target progresinya.
Di momen lain, terlihat Fofana tidak melanjutkan marking-nya terhadap Hakan Çalhanoğlu, sehingga mantan gelandang Milan ini bisa menerima umpan progresi dan meneruskan bola kepada De Vrij. Saat melakukan pressing, Milan beberapa kali terlihat cukup tanggung karena mereka tidak ingin struktur backline-nya terorganisir. Hal ini membuat pemain di backline seringkali berhati-hati dan tidak terpancing naik.
Dengan pressing yang tanggung ini, Inter beberapa kali bisa melakukan serangan dengan long pass, memaksimalkan center-back yang tidak di-press secara intens dan mengincar ruang di belakang backline Milan yang menerapkan garis pertahanan tinggi.
Gol-Gol Inter Milan di Babak Pertama dan Awal Babak Kedua
Pada akhir babak pertama, Inter berhasil unggul melalui Lautaro Martinez. Gol ini bermula dari Dimarco yang berhasil memanfaatkan kelengahan Emerson Royal dengan melakukan throw-in cepat kepada Mkhitaryan yang berlari mengeksposisi kanan pertahanan Milan. Dalam situasi dua lawan dua, Taremi menerima umpan dari Mkhitaryan dan diteruskan kepada Lautaro yang bergerak melebar untuk membuka ruang tembak. Striker berkebangsaan Argentina ini melakukan gerakan fake shot sebelum melepaskan tembakan mendatar ke tiang dekat.
Di awal babak kedua, Inter menggandakan keunggulan melalui Taremi. Kali ini, pressing Milan yang tanggung kembali diekspos. De Vrij yang tidak di-press melepaskan long pass ke ruang tinggi di belakang backline Milan. Taremi berhasil lepas dari kawalan dan berlari melewati backline Milan yang renggang. Terlihat first touch dan finishing-nya yang mulus, lagi-lagi bola diarahkan ke tiang dekat yang nampak menjadi kelemahan Maignan dari laga ini.
Respon Adaptif Sergio Conceição dan Masuknya Rafael Leão
Dari laga ini, kita bisa melihat bagaimana karakter Sergio Conceição yang adaptif terhadap lawan. Pada laga pertama menghadapi Juve yang menggunakan pakem empat bek, ia menempatkan Pulisic di sisi kanan dan Alex Jimenez di sisi kiri. Di laga melawan Inter ini, Conceição menukar posisi Jimenez dan Pulisic.
Hal ini bertujuan agar Jimenez, yang berposisi asli sebagai full-back, bisa memberikan support kepada Emerson Royal saat bertahan. Taktik ini dirancang untuk mematikan Inter yang bermain dengan pakem tiga bek plus dua wing-back, yang memberikan keunggulan lebar. Sehingga Jimenez diberikan peran untuk turun sejajar dengan backline guna mengimbangi pemain sayap yang dimiliki Inter. Saat on possession, Milan akan kembali ke struktur naturalnya dengan Jimenez sebagai winger.
Setelah kesulitan membongkar pertahanan Inter di babak pertama dan tertinggal dua gol, Conceição merespon di babak kedua dengan memasukkan Rafael Leão menggantikan Alex Jimenez. Leão berhasil menjadi game changer dan berperan penting di gol pertama Milan.
Comeback Gemilang AC Milan: Gol-Gol Penyelamat dan Kemenangan Derby
Gol pertama Milan berselang lima menit dari gol kedua Inter. Gol ini bermula dari Morata yang berhasil memutus build-up Nerazzurri dengan mencuri bola dari Asllani. Counter-attack terjadi dan Leão dilanggar oleh Mkhitaryan. Free kick di depan kotak penalti, Theo Hernández yang menjadi algojo berhasil mencetak gol dengan tembakan melengkung yang tidak bisa dijangkau Sommer. Gol pertama yang dicetak tidak lama dari gol kedua Inter ini membangkitkan momentum Milan untuk mengejar ketertinggalan.
Conceição kembali melakukan pergantian dengan memasukkan Tammy Abraham menggantikan Reijnders guna menambah striker di depan. Lalu Milan bermain menggunakan dua striker di depan dengan struktur 4-2-4.
Pada menit ke-80, mereka menyamakan kedudukan. Bermula dari situasi counter-attack yang diinisiasi oleh Maignan dengan memberikan lemparan langsung kepada Leão. Selanjutnya, terlihat chemistry dari Leão memberikan through pass kepada Theo yang melakukan underlap mengekspos ruang di belakang backline Inter. Theo lepas dan memberikan cutback ke tengah, di mana di area itu Bastoni lengah dan tidak melihat pergerakan Pulisic yang muncul dari titik butanya. Sambil memutar badan, Pulisic melepaskan tembakan mendatar menjebol gawang Yann Sommer.
Puncak dari comeback Milan terjadi di masa injury time. Gol ini hasil dari kolektivitas pemain di sisi kanan. Terlihat bagaimana Calabria yang melakukan underlap pergerakannya sukses menarik Bastoni sehingga tiga center-back Inter renggang dan diekspos oleh Leão yang lepas dari kawalan Asllani. Selain itu, Pulisic bisa dengan leluasa melepaskan through pass ke Leão. Padahal sebenarnya di area itu Inter unggul jumlah dua lawan satu dengan Pulisic. Leão lepas dan memberikan assist kepada Tammy Abraham. Di gol ini, terlihat kecerdikan dari Leão yang memantulkan bola sehingga sedikit melambung dan tidak dapat diblok oleh bek Inter.
3-2! AC Milan berbalik unggul dan keluar sebagai juara Supercoppa Italia! Awal yang manis bagi Sergio Conceição. Kemenangan derby ini menjadi yang kedua kalinya bagi Milan di musim ini, setelah sebelumnya juga menang bersama Fonseca. Hal yang sulit dilakukan oleh Pioli ini menjadi hal positif untuk menghapus catatan minor yang kalah enam kali beruntun di derby musim lalu.
Setelah berhasil meraih trofi Supercoppa Italia, misi selanjutnya adalah mengangkat Milan yang saat ini terdampar di posisi klasemen Serie A. Di sini, konsistensi punggawa AC Milan bersama Conceição akan diuji karena sudah tidak berformat turnamen lagi.






