Analisis Taktik Real Madrid vs. Manchester City Mengapa Ancelotti Unggul dari Guardiola?

Real Madrid berhasil menyingkirkan Manchester City di Liga Champions, sebuah hasil mengejutkan yang membuat Pep Guardiola merasakan eliminasi di babak awal untuk pertama kalinya sejak musim 2012-2013. Lantas, bagaimana strategi Carlo Ancelotti berhasil menaklukkan raksasa Premier League ini? Mari kita selami lebih dalam analisis taktik pertandingan ini.
Mbappe Jadi Momok: Pertahanan Manchester City Terekspos
Kylian Mbappe tampil sebagai bintang lapangan dengan mencetak hat-trick yang menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Manchester City. Tiga gol Mbappe menyoroti kelemahan lini belakang City yang digalang Ruben Dias dkk., terutama dalam hal manajemen garis pertahanan. Mereka gagal menjaga ketinggian garis pertahanan, sehingga banyak ruang terekspos di belakang, seperti yang terlihat jelas pada gol pertama.
Dominasi Tanpa Bola: Kontrol Ruang Kunci Kemenangan Madrid
Salah satu aspek paling menonjol dari kemenangan Real Madrid adalah kemampuan mereka untuk mengontrol penguasaan bola lawan meskipun tanpa bola. Statistik PPDA (Passes Per Defensive Action) Real Madrid yang tinggi menunjukkan bahwa mereka membiarkan City melakukan rata-rata 18 umpan di setiap build-up. Ini berarti pressing intens tidak dilakukan.
Namun, Ancelotti dengan cermat mengatur ketinggian garis pertahanan timnya, memastikan ruang di belakang tidak terekspos. Strategi bertahan pasif ini, yang juga diamini Ancelotti pasca-laga, adalah kunci. “Kami mengontrol mereka dengan baik meski tidak menguasai bola,” ujarnya.
Formasi dan Adaptasi Tim: Ancelotti vs. Guardiola
Real Madrid
Ancelotti tidak melakukan banyak perubahan signifikan. Tchouaméni dikembalikan ke posisi gelandang, berduet dengan Asensio. Di atas kertas, Madrid bermain dengan formasi 4-4-2 dengan duet maut Mbappe dan Vinicius Junior di lini depan.
Manchester City
Pep Guardiola melakukan beberapa perubahan. Julian Alvarez (sebelumnya Marmos) memulai sebagai false nine menggantikan Haaland yang cedera, berduet dengan Savinho. Di belakang mereka, Gundogan menjadi penopang. City memulai dengan tiga gelandang: Nico Gonzalez, Phil Foden, dan Bernardo Silva. Meski di atas kertas bermain 4-3-1-2, City melakukan build-up dengan berbagai variasi, sering terlihat dengan empat pemain di lini depan (Alvarez, Savinho, Foden, dan Gundogan), sementara Bernardo dan Nico menjadi double pivot di belakang.
Mengapa Serangan City Tumpul di Babak Pertama?
Variasi build-up City bertujuan untuk membuka ruang bagi overlap ke depan. Namun, permasalahan utama City di babak pertama adalah kurangnya keberanian untuk melakukan penetrasi cepat. Savinho sering memilih operan pendek, dan minimnya penetrasi serta kecepatan eksekusi peluang membuat City gagal mencatatkan satu pun shot on target di babak pertama, berbanding tujuh milik Real Madrid. Perubahan shape dan posisi tidak mampu membongkar pertahanan Madrid yang pasif.
Rahasia Bertahan Madrid: Kontrol Ruang dan Transisi Cepat
Madrid sengaja bermain pasif dengan tujuan menutup ruang di belakang garis pertahanan melalui shape 4-4-2. Ini terekam dari angka PPDA Madrid yang tinggi. Ketika pressing terpancing naik, Madrid mampu mengekspos pertahanan City saat transisi.
Berbanding terbalik dengan City, Madrid mampu mengontrol garis pertahanannya dengan baik dan tidak terlalu “empuk” dalam bertahan. Gol pertama Madrid menjadi bukti: memanfaatkan lemahnya pressing di depan dan garis pertahanan City yang tetap tinggi, Asensio mengirimkan umpan akurat ke belakang bek City, yang langsung dieksekusi Mbappe dengan cerdik.
Build-Up Real Madrid: Memancing dan Mengekspos
Real Madrid membangun serangan dengan shape 4-2, namun sangat cair. Rotasi posisi dan kemampuan Bellingham dkk. dalam memanfaatkan lemahnya pressing City untuk memprogresikan bola ke depan adalah kuncinya. Prinsip utama dalam build-up Madrid adalah memancing pressing lawan naik, lalu dengan cepat mengeksposnya.
Skema ini terlihat jelas pada gol kedua. Lemahnya pressing Man City ketika Mendy membawa bola memancing pemain lawan naik. Tchouaméni melakukan switch bola ke Bellingham yang tanpa pressing agresif, memungkinkan Bellingham menerima bola dan memberikan through pass indah ke Vinicius, yang kemudian diteruskan ke Rodrygo dan berakhir dengan gol individu Mbappe.
Hat-trick Mbappe dan Kelemahan Koordinasi City
Gol-gol Madrid tidak hanya membuktikan lemahnya pressing City, tetapi juga menegaskan bahwa anak asuh Ancelotti mampu melakukan build-up pendek sebelum penetrasi cepat. Hal ini tidak dapat dilakukan City, meskipun mereka juga terkenal dengan build-up pendek. Kecepatan penetrasi menjadi masalah utama mereka.
Gol ketiga Real Madrid juga menyoroti buruknya koordinasi Manchester City saat transisi bertahan. Meskipun sudah recovery atau kembali ke posisi bertahan, posisi mereka masih belum kembali ke posisi aslinya. Mbappe memanfaatkan ruang dan waktu yang dimilikinya untuk melakukan cut inside dan menembak tepat ke pojok gawang Ederson tanpa gangguan berarti dari bek City, melengkapi hat-tricknya.
Kesimpulan: Genius Taktik Ancelotti
Cara bertahan pasif Ancelotti, dengan kunci kontrol ruang dan tidak melakukan pressing agresif, membuat ruang di depan bek relatif terjaga. Hal ini menyulitkan Manchester City untuk menyerang lewat sayap. Manchester City baru bisa memperkecil ketertinggalan di menit-menit akhir melalui tendangan bebas, yang menunjukkan bahwa di laga ini, Pep Guardiola kalah dalam segalanya. Penguasaan bola yang dilakukan timnya terasa semu karena sepenuhnya dikontrol Ancelotti, bahkan tanpa penguasaan bola.






